Serba-Serbi
Aug13

Suka Duka Menjadi Peserta SM3T (Sarjana Mendidik Di Daerah Terdepan, Terluar Dan Tertinggal)

sri astuti Suka Duka Menjadi Peserta SM3T (Sarjana Mendidik Di Daerah Terdepan, Terluar Dan Tertinggal) Banyak kisah yang mengharukan saat mengajar di daerah terdepan, terluar dan tertinggal  di pelosok bumi nusantara ini. Hal itu dikisahkan oleh Sri Astuti, S.Pd, alumni Program Studi (Prodi) Pendidikan IPA, FMIPA UNY,  yang menjadi salah satu peserta SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal. Ia ditugaskan sebagai pengajar IPA di SMP Negeri 2 Terangun, yang terletak di Kampung Kute, Jln. Terangun - Blang Pidie Km 5, Gayo Lues, Aceh . Sekolah tersebut  letaknya jauh dari pemukiman penduduk dan hanya dikelilingi hutan berbukit, tidak ada jaringan  dan untuk mendapat air pun harus ke sungai yang jaraknya 800 m dari sekolah. Perjalanan dari Blangkejeren, ibukota kabupaten Gayo Lues, menuju SMP Negeri 2 Terangun kurang lebih 1,5 jam ditempuh dengan sepeda bermotor dan melewati jalan berbukit dan hutan. Setiap hari gadis yang akrab dipanggil Tuti ini tiba di sekolah pukul 7.45 karena sekolah dimulai pukul 08.00 WIB.

Sri Astuti menuturkan, SMP Negeri 2 Terangun terdiri dari 6 lokal, masing-masing lokal terdiri dari 20 siswa. Jumlah guru di sekolah tersebut,  8 guru bidang studi dan 1 kepala sekolah. Mengajar di sekolah tersebut menurut Tuti  membuatnya harus lebih kreatif.  “Fasilitas di sekolah sangat minim, sehingga untuk mengajar mata pelajaran yang harus ditunjukkan dengan visual, kami harus pandai-pandai membuat alat peraganya. Padahal bahan-bahan yang  dibutuhkan belum tentu ada di kecamatan dan kami harus pergi ke kota yang jaraknya kurang lebih 80 km”, jelasnya. Demikian juga dengan pelajaran olahraga yang seharusnya dilakukan di lapangan, justru diajarkan di dalam kelas karena ketiadaan fasilitas, sehingga siswa hanya sekedar mengerti bola basket tanpa pernah mengerti bagaimana bentuk dan wujudnya. Pengalaman mengajar di daerah tersebut juga membuatnya belajar ekstra sabar karena keterbatasan daya tangkap murid-muridnya serta belum semuanya  pandai berbahasa Indonesia.  “Rencana Program Pembelajaran yang kami buat standarnya untuk 2 kali pertemuan,  di sini bisa untuk 4 kali pertemuan”, ujar Tuti.

Walaupun demikian Sri Astuti tetap bersemangat untuk mengajar murid-muridnya. Membayangkan murid-muridnya pergi ke sekolah  pada pukul 6 pagi yang sangat dingin, dengan berjalan kaki, menempuh jarak  rata-rata 6 km, dengan kondisi jalan yang  naik turun, berlumpur dan kanan kiri jalan hutan. Membayangkan semua ini dan membayangkan  semangat mereka untuk belajar, rasanya sangat malu pada mereka, ketika sempat semangat saya  luntur”, ujarnya lirih.

Tuti yang mengaku menyayangi murid-muridnya, menambahkan ia sering merasa terharu melihat baju dan sepatu murid-muridnya yang penuh lumpur. Bahkan ada juga yang koyak karena ibunya masih di kebun sehingga tidak sempat menjahitnya.  Aroma tak sedap  karena pakaian sekolah dipakai selama tiga hari, dan bau keringat karena  mereka pulang pergi ke sekolah berjalan kaki, menjadi biasa baginya. Menurut gadis kelahiran 5 Agustus 1989 ini,  anak-anak di Gayo Lues sebagian besar anak petani. Orang tua mereka pada hari Senin-Sabtu tinggal di kebun yang terletak  di atas bukit yang jauh dari tempat tinggal mereka. Orangtua mereka hanya pulang pada hari Minggu saat ada pekan (pasar), untuk membeli berbagai keperluan.

Mengakhiri ceriteranya, Tuti mengatakan sangat bangga bisa mendapat kesempatan mengajar di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal. Pengalaman yang menurutnya sangat luar biasa karena selama di sana  tidak hanya berkutat dengan  mengajar di sekolah saja tetapi juga melakukan posdaya masyarakat,  diantaranya membimbing anak-anak kampung mengaji, mengajarkan tarian kreasi baru, melakukan pengecekan golongan darah siswa  dan melakukan penataan taman sekolah agar nampak indah sehingga siswa senang dan nyaman berada di sekolahnya, SMP Negeri 2 Terangun. Semuanya akan menjadi bekal untuk menjadi Guru Profesional.

Maju Terus Guru Indonesia..Salam Sega Ndog  ok Suka Duka Menjadi Peserta SM3T (Sarjana Mendidik Di Daerah Terdepan, Terluar Dan Tertinggal)

 http://www.uny.ac.id/berita/UNY/suka-duka-menjadi-peserta-sm3t-sarjana-mendidik-di-daerah-terdepan-terluar-dan-tertinggal

Sahabat Dhidhik:

apakah sm3t dibayarkisah guru sm3t unjpengalaman ikut sm3tCerita guru sm3tcerita peserta sm3tserba-serbi sm3tsm3t dibayar atau tidaksm3t unj
Tags:

Author: 

Hanya seorang guru GTT yang ingin belajar ngeblog, berbagi cerita dan pengalaman, serta silaturahmi yang terpenting. HIDUP MAMANE KARO BAPAKE :| Jangan lupa add ane di link social network dibawah.

author

Related Posts "Suka Duka Menjadi Peserta SM3T (Sarjana Mendidik Di Daerah Terdepan, Terluar Dan Tertinggal)"

Leave a reply "Suka Duka Menjadi Peserta SM3T (Sarjana Mendidik Di Daerah Terdepan, Terluar Dan Tertinggal)"